“Benar pak RT, kenapa harus anjing yang dipelihara? Kenapa tidak kambing saja, kan bisa disembelih pas Idul Adha. Dia ini ustad sableng atau gak ngerti agama? Anjing kok dipelihara, di kampung kita lagi. Kalau pak RT gak bertindak, warga yang bertindak,” tambah Ishak menerangkan.
“Sebentar dulu, jangan asal menuduh pak ustad Subhan yang tidak-tidak. Mungkin itu anjing yang sekedar lewat atau anjing desa tetangga yang mampir ke rumahnya. Kalian jangan asal maen sruduk. Kita tanya dahulu baru diputuskan,” kata pak RT dengan bijak.
“Pak RT ini gimana sih? Orang kita banyak yang lihat dengan mata kepala sendiri kok, Ustad geblek itu menggendong Anjing pakai surbannya. Saya saksinya, kemarin pagi saya lihat dia membawa anjing sialan itu ke rumahnya. Saya masih waras pak!” umpat penjual sayuran bernama Husni dengan nada kesal.
“Ini sudah keterlaluan pak. Baru kali ini seorang imam masjid di desa kita berbuat seperti itu. Kemarin siang saya juga lewat di depan rumahnya dan saya melihat ustad itu mengelus anjing. Malah saya sempat ngobrol dengan dia. Katanya anjing itu cantik. Dia sudah tidak waras pak! Kita harus mengeluarkan dia dari daftar imam masjid dan khotib sholat jum’at mulai sekarang. Saya takut kata-katanya tidak didengarkan warga yang mulai tidak percaya kepadanya,” ungkap penjual susu bernama Azra.
Suasana di rumah pak RT mulai panas sore itu. Beberapa orang yang memenuhi rumah pak RT untuk melaporkan kelakuan ustad Subhan yang aneh akhir-akhir ini di antaranya adalah jamaah masjid Al Abror. Mereka tidak mau sholat di imami oleh ustad Subhan, pemelihara hewan najis bernama Anjing. Terlebih, rumah ustad Subhan itu tepat di samping masjid. Yang mereka khawatirkan juga seandainya anjing itu berkeliaran di masjid.
“Saya setuju dengan ucapan kang Azra pak,” kata Mamat. Bagaimana kalau anjing itu masuk ke masjid dan menjilati seluruh bagian masjid. Najis semua bagian-bagian masjid. Dan tidak sah sholat jamaah di masjid kita. Apa kita mau mengepel seluruh masjid dengan tanah? Gak lucu pak. Apa jadinya kampung ini kalau itu menjadi kenyataan? Mending saya pindah kost-kostan saja pak atau malah pulang kampung. Daripada sholat saya tidak sah?
“Begini saja pak, meski saya awam di bidang agama tapi saya masih mencintai Islam sebagai agama saya. Kalau saya boleh usul, mumpung masih sore kita datangi saja rumah pak ustad. Mungkin sudah di rumah sekarang, setelah zikiran di masjid. Dengan begitu kita tidak main tuduh saja. Kalau emang benar, kita buang anjing itu atau suruh pak ustad pindah rumah jika tetap ingin memelihara anjing,” Seorang tukang reparasi komputer bernama Haky tiba-tiba menerangkan dengan kata yang indah sekali.
Semua orang yang ada di rumah pak RT diam sejenak. Beberapa di antara mereka seolah-olah berlagak sedang berpIkir. Pak Andrew dan Kang Husni tampak mangut-mangut seraya menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah perlahan. Suasana panas saat itu berubah menjadi hening setelah ucapan bijak dari Mas Haky. Meskipun hanya bekerja sebagai tukang reparasi komputer tapi dia sangat perhatian dengan masalah agama.
Keheningan itu seketika menjadi cair seiring kedatangan bu RT dengan membawa sebuah nampan.
“Silakan minum dulu bapak-bapak, ini ada teh seadanya saja. Ini juga tadi baru nggoreng pisang sama Lastri di belakang. Monggo pak, selagi masih anget,” tawar bu RT.
“Suwun bu, kok malah ngrepoti. Alhamdulilah,” kata Pak Rizky sambil mengambil segelas teh dan pisang goreng anget.
“Bu RT memang mantap”, celetuk Pakdhe Anggit.
“Monggo pak dinikmati dulu”, kata pak RT. “Setelah ini kita langsung saja ke rumahnya ustad Subhan, mumpung masih sore. Tapi harapan saya bapak-bapak tidak emosi dulu sebelum ustad menjelaskan kepada kita.
“Insya Allah pak”, Pakdhe Anggit menyahut.
Beberapa orang mangut-mangut tanda setuju akan rencana pak RT seraya menikmati pisang goreng dan segelas teh.
Setelah beberapa lama mereka menikmati hidangan dari bu RT, Kang Husni dan Pak Andrew sudah tidak sabar melabrak ke rumah ustad Subhan tentang anjing peliharaannya. Sementara itu setelah menikmati beberapa hidangan pendinginan, warga dan pak RT bergegas mendatangi rumah ustad Subhan. Tampak ustad Subhan baru saja memasuki halaman rumahnya yang berdampingan dengan masjid. Sesekali menengok sebuah kotak yang berada di depan rumahnya.
“Assalamualaikum ustad”, sapa pak RT.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Wah tumben nih pada silaturahmi ke sini. Mari-mari pak, sebagian di luar saja ya pak rumah saya dalamnya sempit”, spontan jawab ustad Subhan sambil tersenyum manis.
“Wah tidak apa-apa pak, di sini saja sambil berdiri”, jawab pak RT. Tampak Kang Husni menyenggolkan bahunya pada pak RT tanda supaya cepat-cepat melanjutkan topik permasalahan.
“Begini pak, tentang keresahan warga yang di adukan pada saya. Sebelumnya mohon maaf, warga tidak setuju kalo pak ustad memelihara anjing”, tukas pak RT.
Ustad Subhan seketika itu juga mengrenyitkan dahi tanda keheranan. “Pelihara Anjing? Saya tidak mengerti maksud bapak. Anjing siapa ya?” tanya pak ustad.
“Sudahlah pak, jangan mengalihkan pembahasan. Anjing hewan najis itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau bapak menggendongnya pagi-pagi kemarin dengan surban ustad”, sambung Kang Husni.
“Ooo…, Si Bleki ya”, jawab pak ustad sambil tersenyum sambil berjalan ke arah kotak yang di taruh di bawah kursi depan rumah. Perlahan pak ustad membawa kardus itu ke kerumunan warga dan secara langsung membuka kotak itu untuk diperlihatkan pada warga.
“Ini namanya Bleki. Lucu kan bapak-bapak?”, tampak seekor anjing dengan warna hitam berbulu agak kusut. Kusut karena bekas darah yang mengalir dari tubuhnya kemain terlanjur kering. Matanya sudah tampak layu karena kelopak matanya sudah barang tertentu berat untuk dibuka. Dua kaki depan dan satu kaki belakang tak bisa digerakkan karena sudah patah. Namun dilihat dari body-nya memang atletis sekali. Tapi sayang sekarang cacat.”
Tiba-tiba saja sebuah tangan dengan sangat keras mengayun ke arah kardus itu. “Brak!” kardus itu terlempar hingga ke atas pagar ustad Subhan. Anjing dan kardus itu terpisah oleh lancipnya kerIkil batu di halaman ustad Subhan. Sebuah benda hitam terlihat bergerak-gerak di atas kerIkil-kerIkil tajam di halaman ustad Subhan.
“Kiiik…Kiiik…Kiiik…!!!”, terdengar suara rintihan anjing berwarna hitam itu.
“Masya Allah Kang Husni, apa yang akang lakukan?” tanya pak ustad seraya berlari kecil menghampiri anjing yang tergelapar itu. Tangan pak ustad secara spontan menyelamatkan anjing kecil itu dari ganasnya kerIkil-kerIkil yang runcing ujungnya itu. Tampak tubuh anjing itu lemah sekali dan napasnya terlihat berat.
“Lihat ini pak anjing ini saya rasa akan mati. Bapak-bapak di sini puas kan?” kata ustad Subhan dengan nada agak kesal.
“Bapak-bapak ini memang tidak punya rasa belas kasihan. Biar bagaimanapun anjing ini berhak untuk hidup pak. Sama seperti bapak-bapak di sini.”
“Tapi anjing ini barang najis pak. Tidak berhak hidup di kampung kita. Dekat masjid lagi”, kata Pak Andrew menerangkan.
“Meskipun najis anjing ini tetap ciptaan Allah. Anjing ini adalah makhluk Allah. Allah menyayangi semua makhluknya. Walaupun anjing ini najis, apakah sudah barang tentu bapak-bapak di sini tidak merasakan kehinaan di hadapan tuhan. Memang anjing ini sudah di plot menjadi makhluk najis, tapi bukan berarti anjing ini akan masuk neraka. Anjing ini tidak berakal, tempatnya ditengah-tengah antara surga dan neraka. Sudah barang tentu anjing ini meski najis dan berdosa banyak, tempatnya sudah jelas. Sedangkan bapak-bapak di sini? Sekecil dosa kalian akan terlihat. Dan siapa tahu di antara kita lebih hina dari pada anjing yang sekarat ini.” Kata pak ustad dengan geramnya.
Pak RT terlihat mengucapkan astaghfirulloh dengan lirih. Begitu juga dengan bapak-bapak yang lain yang ada di tempat itu. Kelihatannya mereka menyadari kesalahan yang merendahkan martabat makhluk allah meskipun sangat jelas sudah najis. Mereka seolah meninggikan derajat mereka sendiri tanpa memandang filosofi kehidupan.
“Asal bapak-bapak tahu saja. Saya mendapatkan anjing ini tidak dengan membeli atau bermaksud memelihara. Tapi bapak perlu ketahui, dua hari yang lalu pemuda-pemuda dari kawasan dekat warungnya Pak Wawan menabrak anjing ini dengan motor mereka. Dan saya rasa mereka mabuk-mabukan melakukan hal ini. Salah satunya adalah putra dari Kang Husni, mohon maaf kalau vulgar. Saya tidak tahu harus berbicara apalagi. Yang pasti ini kejadian pertama kali di kampung kita. Pemuda kita sudah berani melanggar aturan kampung dan aturan agama kita. Bukankah ini yang harus ditindak lebih dahulu dibandingkan dengan masalah anjing? Dan anjing inilah korban-korban mereka. Anjing ini saya temukan ketika saya berjalan-jalan di tengah gerimis. Anjing ini berlumur darah karena korban biadab pemuda kampung kita yang tidak seronoh itu. Anjing ini mati karena mereka ngebut di jalanan sambil mabuk. Dan sekarang saya yakin, bapak-bapak di sini puas kalau anjing ini mati!” tegas pak ustad.
Seluruh bapak-bapak yang ada di rumah pak ustad sontak diam. Mereka tertunduk malu karena sudah berpIkiran negatif terhadap apa yang dilakukan oleh pak ustad. Terlebih Kang Husni, yang anaknya juga terseret dalam omongannya pak ustad tadi. Wajahnya begitu merah, malu karena amarah dan perbuatan anaknya sendiri.
Sedangkan Pak RT dan bapak-bapak yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar ucapan pak ustad. Mereka hanya bisa diam dan berdiri tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. -Sweet Home-
(Terkadang kita hanya berpikir sepihak tentang suatu keadaan yang belum tentu maksud dan tujuan meskipun itu sangat dilarang sekalipun)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar